Labels

GEOGRAFI (20) MAKALAH (16) BIOLOGI (15) BAHASA INDONESIA (12) KEWARGANEGARAAN (10) SOSIOLOGI (10) SEJARAH (9) AGAMA ISLAM (8) FISIKA DAN KIMIA (6) KESENIAN (5) PENJASKES (5) BUDAYA ADAT ALAM MINANGKABAU (BAM ) (3) CERPEN (3) OTOMOTIF (3) SAINS DAN TEKNOLOGI (3) Bahasa Inggris (1) DAFTAR ISI (1) IPS (1) KUMPULAN MAKALAH (1)
Showing posts with label BUDAYA ADAT ALAM MINANGKABAU (BAM ). Show all posts
Showing posts with label BUDAYA ADAT ALAM MINANGKABAU (BAM ). Show all posts

Wednesday, 4 March 2015

Tari Payung



Tari Payung adalah salah satu tari klasik dari Daerah Minang dan menggambarkan kasih sayang seorang kekasih yang dilambangkan dengan melindungi dengan payungnya.Tarian ini memang merupakan tari pergaulan muda-mudi sehingga dibawakan secara berpasang-pasangan. Selain menggunakan payung sebagai alat bantu yang dimainkan oleh penari pria, bisa juga ditambah dengan selendang untuk penari wanita.Musiknya cukup variatif, mulai dari agak pelan, lalu agak cepat dan cepat, sangat dinamis. Tari ini biasa dibawakan untuk memeriahkan acara pesta, pameran, dan lain sebagainya.
Tari Payung merupakan tari tradisi Minangkabau yang saat ini telah banyak perubahan dan dikembangkan oleh senian-seniman tari terutama di Sumatra Barat. Awalnya tari ini memiliki makna tentang kegembiraan muda mudi (penciptaan) yang memperlihatkan bagaimana perhatian seorang laki-laki terhadap kekasihnya. Payung menjadiicon bahwa keduanya menuju satu tujuan yaitu membina rumah tangga yang baik. Keberagaman Tari Payung tidak membunuh tari payung yang ada sebagai alat ungkap budaya Minangkabau. Keberagaman tersebut hanyalah varian dari tari-tari yang sudah ada sebelumnya. Sikap ini penting diambil untuk kita tidak terjebak dengan penilaian bahwa varian tari yang satu menyalahi yang lainnya. Sejauh tri terseut tidak melenceng dari akar tradisinya, maka kreasi menjadi alat kreativitas seniman dalam menyikapi budaya yang sedang berkembang.

Friday, 27 February 2015

5 Tempat Bersejarah di Sawahlunto Sumatera Barat



sawahlunto

Tidak banyak yang memilih untuk melakukan perjalanan yang kental dengan unsur sejarah. Kebanyakan, mereka yang traveling, hanya ingin mendapatkan pemandangan yang indah. Tunjukan saja satu foto pantai dengan laut biru atau hamparan rumput hijau berulir, and everyone start screaming like “I wanna go there! I wanna go there!”. Yes, i was one of them. Hingga suatu hari saya mengenal Sawahlunto.
Sawahlunto adalah kota yang terletak di Sumatera Barat.
map sawahlunto
Kota ini memiliki sejarah menarik sebagai kota pertambangan batubara di zaman kolonial. Bisa dibilang, kota ini sendiri secara keseluruhan adalah kota sejarah, bukan hanya beberapa lokasi saja.  Jadi, tahun 1858, pihak Belanda menemukan tanda-tanda bahwa ada endapan batubara di tanah Sawahlunto. 10 tahun kemudian, pemuda Belanda bernama de Greve menemukan batubara ini dan akhirnya menjadikan sawahlunto sebagai kota tambang batubara tertutup.
Berikut adalah tempat-tempat bersejarah yang membuat saya ingin kembali ke Sawahlunto…
1. Loebang Mbah Soero
mbah soero1
Halaman samping Galeri Infobox adalah tempat masuk terowongan Mbah Soero
Pergilah ke Galeri Infobox, pusat informasi wisata Kota Sawahlunto. Di halaman samping tempat ini, ada sebuah gua tambang batubara yang dapat dikunjungi oleh wisatawan, sekarang disebut dengan Loebang Mbah Soero. Lorong batubara ini memang dikomando oleh seorang mandor yang dipanggil Mbah Soero.
Pengunjung tinggal membeli tiket masuk di Galeri Infobox. Disediakan boot dan helm yang bisa dipakai. Bukan, helmnya bukan helm yang dipakai untuk naik sepeda motor. Tapi helm kuning yang biasa dipakai pekerja di konstruksi. Jangan takut masuk ke sini, karena ada pemandu.
Ada dua tipe pemandu yang disediakan. Yang akan memandu Anda sambil bercerita dengan memasukkan unsur mistik. Dan pemandu lainnya yang bercerita sambil memasukkan unsur teknis atau istilah kecenya, science. Mungkin Anda bisa mengajukan permintaan yang sesuai dengan selera Anda* (*terms and conditions apply).
Kebetulan, pemandu kami, adalah pemandu tipe pertama, yang bergaya agak mistis sambil bercerita. Beliau bilang, jangan takut untuk memotret. Tidak apa. Asalkan tidak berniat atau sengaja ingin menangkap gambar dari dunia lain.
Saat memasuki terowongan tambang batubara ini ada sebuah perasaan aneh. Bukan, bukan menyangkut hal mistis. Perasaan aneh karena merasa keren kayak di Indiana Jones. Benar-benar asli terowongan bawah tanah. Dengan pencahayaan kuning remang-remang. Tentu saja sedari awal, niatan memotret di sini selain promosi pariwisata, adalah latihan memotret dalam kondisi minim cahaya. Mulia sekali. Dengan niatan seperti itu, jangan takut untuk mencoba memotret sebanyak-banyaknya.
Pemandu akan menceritakan sejarah lubang tambang ini. Jangan ragu untuk bertanya ke pada pemandu jika Anda penasaran tentang beberapa hal. Misalnya, kenapa ada salah satu cabang lorong yang ditutup dengan jeruji besi. Dan Anda beruntung jika mendapatkan jawabannya dari dua sudut pandang sekaligus, agak mistis dan agak teknis.
Tambang batubara ini beroperasi pada tahun 1891 dan ditutup pada tahun 1932 karena rembesan air mulai masuk ke dalam lorong sepanjang 1.5km ini. Selama beroperasi, pekerja tambang batubara ini dikenal sebagai orang rantai. Karena selama bekerja di dalam terowongan ini kaki mereka di rantai.
Tahun 2007, Pemerintah Kota Sawahlunto membuka kembali terowongan ini. Dari pemandu dan Kepala Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto – yang berarti saya sangat beruntung bisa mendengar penjelasan langsung dari Bapak Kepala Dinas – diceritakan bahwa sebelum kembali dibuka, terowongan ini dipenuhi air. Membutuhkan puluhan hari untuk menyedot air yang menggenangi terowongan ini sehingga bisa kembali dibuka dan aman dikunjungi. Dan membutuhkan puluhan hari lagi untuk menggali tanah di dalam terowongan agar nyaman dilewati.
mbah soero 2
terowongan yang membuat kita merasa berada di film Indiana Jones. Atau Lara Lara Croft.
Bayangkan sebuah terowongan dipenuhi oleh air. Dan harus menggali beberapa bagian tanah lagi sebagai rute wisata Mbah Soero ini. Tentunya bukan pekerjaan mudah. Kendala utama saat itu adalah tidak ada informasi atau dokumen apapun terkait peta atau jalur terowongan. Siapa sangka, ternyata pembukaan kembali terowongan ini agar tetap aman menggunakan kombinasi dari cara tradisional dan modern. Cara modern tentu saja dengan ilmu para ahli di bidang pertambangan, teknologi, dan pengalaman dari penambang batubara. Cara tradisionalnya? Kuda lumping. Mereka berhasil membuat perkiraan peta terowongan dari informasi yang diberikan kuda lumping. Believe it or not, they did it. Kita sebut saja, klasik.

2. Museum Goedang Ransoem
periuk-periuk raksasa
periuk-periuk raksasa
Mulanya, ini adalah dapur umum yang digunakan untuk menyediakan konsumsi bagi para pekerja tambang di Kota Sawahlunto. Dapur umum ini akhirnya menjadi Museum Goedang Ransoem. Banyak kuali-kuali raksasa. Tungku apinya? wah, lebih besar dari rumah kontrakan. Beberapa peralatan di sini didatangkan dari Jerman, jadi jangan heran jika ada tulisan bahasa Jerman. Kompleks Museum Goedang Ransoem ini bukan hanya memajang peralatan dapur umum yang digunakan saat itu. Tapi juga ada penayangan film pendek tentang sejarah Kota Sawahlunto.
tungku api yang digunakan di dapur umum
tungku api yang digunakan di dapur umum











3. Silo
Ini bukan mercusuar. Apalagi tower air.
Ini bukan mercusuar. Apalagi tower air.
Apa itu Silo? Silo adalah tempat penyimpanan batubara. Ada tiga silo raksasa yang juga menjadi simbol Kota Sawahlunto. Di area tempat Silo ini berdiri dengan gagahnya, adalah lahan rerumputan dan beberapa pohon tepat di bawah Silo.

4. Kereta Mak Itam
Mak Itam tampak depan tetap terlihat gagah meski sudah tidak beroperasi
Mak Itam tampak depan tetap terlihat gagah meski sudah tidak beroperasi
Ada tambang batubara, ada penyimpanan batubara, tentu saja selanjutnya adalah alat transportasi untuk batubara. Pengangkutan batubara menggunakan kereta yang dinamakan Mak Itam. Mak Itam ini asal Jerman. Begitu berjayanya Mak Itam dulu saat gencarnya aktivitas penambangan batubara di kota ini, hingga akhirnya Mak Itam, sempat dijadikan kereta wisata. Wisatawan dapat mencoba menaiki kereta ini kurang lebih selama 30 menit dengan pemandangan hamparan sawah dan Bukit Barisan. Sayangnya, pada tahun 2012, Mak Itam sudah tidak beroperasi. Mak Itam tampaknya sudah kelelahan,  apalagi membutuhkan banyak batubara untuk menjalankannya. Jadilah Mak Itam sekarang dimuseumkan di Museum Kereta Api di Kota Sawahlunto.

5. Puncak Polan
Ya, Anda juga bisa mendapatkan lanskap di Sawahlunto. Kontur Kota Sawahlunto adalah perbukitan. Puncak Polan adalah satu tempat di mana Anda bisa menikmati hamparan Kota Sawahlunto. Puncak Polan namanya. Masih bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor, dan ada homestay di sana. Kenapa namanya Puncak Polan? Konon, ada seorang pastur terkenal di Kota Sawahlunto yang berasal dari Polandia dan meninggal di puncak tersebut, karenanya, muncul lah sebutan Puncak Polan.
http://img-static.riaupos.co/SAWAHLUNTO1.jpg


http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSyiOp5WRyEHDEKXuGek6K34nXRtx15bdxQP4zRYKEcq3yQUzrhmwBottom of Form

Tuesday, 24 February 2015

Adat Pernikahan di Pariaman






Perlu diketahui, Pariaman adalah satu dari sedikit daerah di ranah Minangkabau yang mempertahankan adat ‘membeli lelaki’ dalam pernikahan. Membeli dengan sejumlah uang ini kerap disebut ‘uang jemputan’ yang besarnya ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.

Adat ini hanya dianut Pariaman dan Padang, sedang di daerah lain seperti Payakumbuh, Bukittinggi, dan Solok, tak menganut adat ini. Uang jemputan ini bukanlah mahar macam pernikahan di India sana. Tapi bea yang dikeluarkan pihak perempuan untuk membawa lelaki itu tinggal di keluarga perempuan.

Sebelum menjelaskan tentang tradisi ini, perlu diketahui bagaimana orang minang memandang adat. Pada prinsipnya orang minang mengklasifikasikan adat menjadi empat macam yakni:

Adat Nan Sabana Adat (adat sebenar adat)
Sederhananya, adat nan sabana adat itu merupakan aturan pokok dan falsafah hidup orang minang yang berlaku turun temurun tanpa dipengaruhi oleh tempat dan waktu, istilahnya ialah indak lakang dek paneh, ndak lapuak dek ujan. Dalam hal ini saya mencontohkan seperti sistem materlineal dan falsafah alam takambang jadi guru (Alam yang membentang dijadikan guru) yang dipakai oleh orang minang.

Adat Nan Diadatkan (adat yang diadatkan)
Kemudian adat nan diadatkan merupakan peraturan setempat yang diputuskan secara musyawarah dan mufakat atau aturan yang berlaku disuatu nagari (negeri/daerah) tertentu.
Misalnya tata cara atau syarat-syarat pengangkatan penghulu dan tata cara perkimpoian. Sehingga adat perkimpoian antara satu daerah dengan daerah lainnya di dalam Minangkabau berbeda-beda, tata cara perkimpoian di Pariaman berbeda dengan tata cara perkimpoian di dareah lainya seperti di limapuluh kota, agam dan daerah lainnya.

Adat Nan Taradat (adat yang beradat)
Sedangkan adat nan taradat merupakan kebiasaan seorang dalam kehidupan bermasyarakat, misalanya seperti tata cara makan. Jika dahulu orang minang makan dengan tangan, maka sekarang orang minang sudah menggunakan sendok untuk makan.

Adat Istiadat
Terakhir ialah adat istiadat yang merupakan kelaziman dalam sebuah nagari atau daerah yang mengikuti situasi masyarakat.

Untuk itu, tradisi bajapuik yang merupakan sebagai transaksi perkimpoian itu termasuk kedalam kategori adat nan diadatkan.
Pada umumnya bajapuik (dijemput) merupakan tradisi yang dilakukan oleh orang minang dalam prosesi adat perkimpoian, karena dalam sistem matrilineal posisi suami (urang sumando) merupakan orang datang. Oleh karena itu, diwujudkan kedalam bentuk prosesi bajapuik dalam pernikahan.

Namun, di Pariaman prosesi ini diinterpretasikan kedalam bentuk tradisi bajapuik, yang melibatkan barang-barang yang bernilai seperti uang. Sehingga kemudian dikenal dengan uang japutan (uang jemput), agiah jalang (uang atau emas yang diberikan oleh pihak laki-laki saat pasca pernikahan) dan uang hilang (uang hilang).

Pengertian uang jemputan adalah Nilai tertentu yang akan dikembalikan kemudian kepada keluarga pengantin wanita pada saat setelah dilakukan acara pernikahan. Pihak Pengantin Pria akan mengembalikan dalam bentuk pemberian berupa emas yang nilainya setara dengan nilai yang diberikan oleh keluarga Pihak Pengantin Wanita sebelumnya kepada keluarga Pengantin Pria. Biasanya pemberian ini dilakukan oleh keluarga pengantin pria (marapulai) ketika pengantin wanita (Anak Daro) berkunjung atau Batandang ka rumah Mintuo. Bahkan pemberian itu melebih nilai yang diterima oleh pihak Marapulai sebelumnya karena ini menyangkut menyangkut gensi keluarga marapulai itu sendiri.

Secara teori tradisi bajapuik ini mengandung makna saling menghargai antara pihak perempuan dengan pihak laki-laki. Ketika laki-laki dihargai dalam bentuk uang japuik, maka sebaliknya pihak perempuan dihargai dengan uang atau emas yang dilebihkan nilainya dari uang japuik atau dinamakan dengan agiah jalang. Kabarnya, dahulu kala, pihak laki-laki akan merasa malu kepada pihak perempuan jika nilai agiah jalangnya lebih rendah dari pada nilai uang japuik yang telah mereka terima, tapi sekarang yang terjadi malah sebaliknya. Bahkan dalam perkembangnya muncul pula istilah yang disebut dengan uang hilang.
Uang hilang ini merupakan pemberian dalam bentuk uang atau barang oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki, yang sepenuhnya milik laki-laki yang tidak dapat dikembalikan.

Fakta dilapangan mencatat bahwasanya perbedaan antara uang japuik dan uang hilang semakin samar, sehingga masyarakat hanya mengenal uang hilang dalam tradisi bajapuik.

Bedakah masing-masing UANG JEMPUTAN & UANG HILANG?
Umumnya masyarakat yang awam tentang kedua istilah ini menyamakan saja antara Uang Jemputan dengan Uang Hilang. Padahal tidak semua orang Pariaman mengerti tentang masalah ini.
Pada awalnya uang jemputan ini berlaku bagi calon menantu yang hanya bergelar Sutan, Bagindo dan Sidi dimana ketiga gelar ini diwariskan menurut nasab atau garis keturunan ayah.
Dengan demikian di Pariaman berlaku 2 macam gelar, yaitu :

1.      gelar dari ayah
2.      gelar dari mamak (paman)

Hanya saja gelar dari Mamak, terpakai adalah gelar Datuak dan gelar Malin saja, misalnya dapat kita contohkan pada seorang tokoh minang yang berasal dari Pariaman, yaitu Bapak Harun Zein (Mantan Mentri Agraria dan Gubernur Sumbar). Beliau mendapat gelar Sidi dari ayahnya dan mendapat gelar Datuak Sinaro dari Ninik Mamaknya. Sehingga lengkaplah nama beliau berikut gelarnya Prof. Drs. Sidi Harun Alrasyid Zein Datuak Sinaro (dari persukuan Piliang).

Lantas siapakah mereka pemegang gelar yang 3 itu?

Gelar Sutan dipakaikan kepada mereka yang bernasab kepada petinggi atau bangsawan Istano Pagaruyuang yang ditugaskan sebagai wakil raja di Rantau Pasisia Piaman Laweh. konsep luhak Bapanghulu - Rantau barajo, seperti :
- Rajo Nan Tongga di Kampuang Gadang Pariaman,
- Rajo Rangkayo Basa 2×11 6 Lingkuang di Pakandangan,
- Rajo Sutan Sailan VII Koto Sungai Sariak di Ampalu,
- Rajo Rangkayo Ganto Suaro Kampuang Dalam,
- Rajo Tiku di Tiku dll

Gelar Bagindo dipakaikan kepada mereka yang bernasab kepada para Petinggi Aceh yang bertugas didaerah Pariaman. Ingatlah bahwa wilayah Pariaman & Tiku pernah dikuasai oleh kerajaan Aceh dizaman kejayaan Sultan Iskandar Muda.

Gelar Sidi diberikan kepada mereka2 yang bernasab kepada kaum ulama (syayyid), yaitu penyebar agama Islam didaerah Pariaman.

Kesimpulannya uang jemputan tidak sama dengan uang hilang. Uang jemputan memiliki kewajiban dari keluarga marapulai untuk mengembalikan kepada anak daro dalam bentuk perhiasan atau pemberian lainnya pada saat dilangsungkan acara Manjalan Karumah Mintuo.

Hal yang wajar bila ada kekhawatiran kaum ibu orang Pariaman, jika anak lelakinya yang diharapkan akan menjadi tulang punggung keluarga ibunya kemudian setelah menikah lupa dengan NASIB DAN PARASAIAN ibu dan adik-adiknya.

Banyak kasus yang terdengar walau tidak tercatat ketika telah menjadi orang Sumando dikeluarga isterinya telah lalai untuk tetap berbakti kepada orang tua dan saudara kandungnya. Ketika sang Bunda masih belum puas menikmati rezeki yang diperoleh anak lelakinya itu menjadikan para kaum ibu di Pariaman keberatan melepas anak lelakinya segera menikah. Dikawatirkan bila anak lelakinya itu cepat menikah, maka pupus harapannya menikmati hasil jerih payahnya dalam membesarkan anak lelakinya itu. Lagi pula para kaum ibu itupun sadar bahwa tanggung jawab anak lelakinya yang sudah menikah, akan beralih kepada isteri dan anaknya.