Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Friday, 27 February 2015

Cerpen Berdasar Pengalaman Pribadi





Nama saya Hendra surya putra, tapi biasanya saya dipanggil teman-teman saya Acun. Umur saya 15 tahun, tempat tanggal lahir saya di Gresik, Jawa timur. Saya anak ke-3 dari 3 bersaudara. Saya disuruh guru saya membuat Cerpen (cerita pendek) saat liburan. Dan cerpen itu bertemakan tentang cita-citaku.
Pada saat saya duduk di bangku SD kelas 1 saya memiliki cita-cita menjadi Pilot, tetapi entah mengapa pada saat saya duduk di bangku SD kelas 5/6 cita-cita saya luntur, dan pada kelas 7 dan 8 ketika guru saya menanyakan cita-cita saya. Saya hanya mengikuti teman-teman saya, yaitu menjadi seorang Dokter, tetapi saya baru sadar dan tahu tentang cita-cita saya, yaitu saya ingin menjadi koki/chef dan meneruskan usaha orangtua saya. Dengan begitu saya berharap bisa membanggakan kedua orangtua saya.
Dan kemudian saya masuk di Sekolah menengah kejuruan yaitu SMK Katolik Mater Amabilis Surabaya yang berada di Jl. Teratai 2B (dekat gelora 10 november). Dan saya mengambil jurusan Jasa boga yang pas dengan passion dan cita-cita saya yaitu ingin menjadi chef/koki.
Disini saya mendapat teman yang berbeda-beda sifatnya, ada yang baik, ada yang biasa saja, dan ada yang jahat. Semua itu tergantung kita menilai orang tersebut. Pada saat semester ini saya sudah diajarkan cara mengupas dan memotong buah yang baik, saya juga sudah di ajarkan cara memotong sayuran yang benar. Dan juga telat di ajarkan membuat kue-kue khas Indonesia, di antaranya: Kue mata roda dan dadar gulung. Di sini juga ada perkenalan bahan/bumbu, seperti jahe, cabe merah, blimbing wuluh, bawang daun, bawang merah, dan masih banyak lagi. Di sini saya juga dikenalkan peralatan hiding, di antaranya: dinner plate, dessert plate, bread and butter plate, compote dish, pudding bowl, rice bowl, cereal bowl, dan masih banyak lagi yang saya tidak sebutkan, dan juga saya diajarkan melipat guest napkin yang benar, dan juga diajarkan melipat 10 napkin lebih dalam waktu 10 menit.
Dulu sih awalnya saya tahu sekolah ini dari kakak perempuan saya, karena pada saat dia kuliah dia bertemu dengan teman-teman yang lulus dari SMK Mater amabilis. Tetapi dia tidak tahu tempatnya dimana. Tetapi akhirnya SMK Mater Amabilis datang ke SMPku dan mempromosikan sekolahnya. Saya pun semakin mantap dan langsung membeli formulir pendaftarannya.
Kemudian keesokan harinya saya mengembalikan formulir tersebut kepada pihak sekolah dan langsung disuruh ikut test masuk hari sabtunya. Dan pada sabtu saya mengikuti test di SMKK Mater Amabilis dan pada hari senin orangtua saya disuruh ke sekolah untuk membicarakan registrasi. Dan akhirnya saya pun masuk dan bersekolah di SMK Mater Amabilis Surabaya hingga sekarang.
Kembali kecita-citaku, sudah saya ceritakan tadi bahwa cita-cita saya adalah menjadi koki dan membanggakan kedua orangtua saya. Saya akan berjuang lebih keras lagi dan belajar lebih tekun lagi. Dengan demikian saya bisa mencapai cita-cita saya, cita-cita saya yang ini memang benar-benar bulat. Disaat saya besar nanti saya akan meneruskan usaha orangtua saya, sebelum itu saya harus belajar menjadi koki yang handal. Setelah lulus SMK ini saya akan kuliah kulineri di Tristar Culinery Institute. Dan setelah lulus kuliah saya akan mengikuti master chef. Dan nanti di rumah makan orangtuaku akan terpajang foto + ijazah atau surat yang menyatakan Hendra surya putra lulus dengan nilai terbaik. Dan juga lulus OJT (On the Job Training) dengan kehadiran 100%. Dan itu semua cita-citaku.
Sekarang saya akan menceritakan masa lalu saya saat berada di SD dan SMP agar cerpen ini menjadi 1000 kata lebih. Pada saaat saya SD saya bersekolah di SD Setia Budhi Gresik, tepatnya di jl. Dr Setia Budhi. Di sana hanya ada 1 kelas dari masing-masing angkatan, misalnya kelas 1 hanya 1 kelas, kelas 2 hanya 1 kelas dan seterusnya. Jujur disana saya bosan karena setiap tahun hanya bertemu dengan teman yang itu-itu saja, dan jika sudah mengenal teman yang itu-itu saja guru-guru pun telah mengenal murid 1 per 1. Begitu juga ketua kelas dan perangkat kelas lainnya, di setiap tahun yang dicalonkan oleh wali kelas adalah murid yang pernah menjadi perangkat kelas sebelumnya, jadi murid yang lain tidak diberi kesempatan untuk menjadi perangkat kelas, dan karena guru-guru telah mengenal murid 1 per 1 guru jadi memilih-milih dan tidak adil, bagi murid yang pintar murid tersebut dan disayang, sedangkan murid yang kurang pandai dikeduakan. Di SD ku dulu juga tidak ada yang namanya OSIS. Begitulah masa SD ku meski 6 tahun di SD tetap saja ceritanya hanya sesingkat itu.
Sekarang cerita masa SMP. Pada saat saya SMP saya bersekolah di SMP Angelus custos atau biasa disingkat SMPK AC1. Di sana terdapat 7 kelas dalam 1 tingkatan. Pada awal saya sekolah disana saya tidak mengenal siapa-siapa. Teman-teman SD saya yang masuk AC1 hanya 14 orang. Tetapi untunglah saya masih ada kenalan atau teman SD sebab ada teman 1 kelas ku yang tidak memiliki teman SD 1 pun, jadi seperti diatas awan masih ada awan. Aku masih beruntung dari teman ku itu. Tapi sekarang kita semua berteman. Dan sampai sekarang masih terdapat komunikasi berlanjut. Nah di SMP ku itu sudah terdapat pengurus OSIS sebenarnya saya mau mendaftar masuk OSIS itu, tetapi pada saat itu pelajaran saya kurang sehingga dilarang oleh walikelas, dan akhirnya disuruh memperbaiki nilai agar kelas 8 bisa masuk Osis, tetapi pada kelas 8 nilai saya sudah meningkat tetapi ada sedikit masalah yang menjadikan saya tidak mengikuti seleksi Osis.
Hampir setiap hari kita main sepak bola dilapangan pada saat istirahat maupun pulang sekolah. Di sana kami juga makan bersama saat istirahat bermain bersama kembali ke kelas bersama dan melakukan aktivitas yang lain bersama (kecuali mandi/buang air).
Di kelas 9 saya mendapat teman-teman yang selama kelas 7 dan 8 belum kenal atau hanya kenal saja. Di kelas 9 kita jadi akrab, dan menjadi teman yang baik. Kita makan bersama di kelas bersama pelajaran bersama dan masih banyak lagi. Meskipun di kumpulanku tersebut terdiri dari 3 perempuan dan 3 laki-laki, tetapi kita tetap solid dan menjadi teman bahkan sesudah UNAS, sekarang kami telah berbeda sekolah semua, ada yang di SMK Sinlui, ada yang d SMA Unsur, di SMA Sanmar, ada di SMA Frateran, dan Seminari garum, tetapi kita tetap komunikasi dan ingin bertemu kembali pada saat liburan natal atau lainnya. Seperti sebentar lagi kami ingin bertemu lagi di Bazar frateran yang akan berlangsung di tanggal 16-18 Oktober ini.
Kembali ke SMK, sebenarnya saya ingin menjadi pengurus Osis, tetapi entah mengapa saat ada vote berlangsung dan dihentikan dan akhirnya saya tidak terpilih, tetapi ya sudahlah apa mau di kata. Nah akhirnya sudah 1000 kata lebih dikit, saatnya saya untuk berpisah dan semoga yang membaca tidak bosan. Cerpen ini bersifat real dan tidak mengandung unsur humor. Demikian dari saya, maaf bila ada salah tulis atau yang lainnya, sekian terimakasih. Dan maaf juga karena saya bukan penulis novel atau cerita jadi saya tidak bisa menempatkan kalimat-kalimat dengan benar dan akhirnya menjadi alur maju mundur.

CERPEN Kecup Cium Untuk Ibu



Namaku Aisyah, gadis remaja biasa yang baru bangun dari tidur lelapnya. Sudah menjadi kebiasaan bagiku meletakkan jam alarmku bersebelahan dengan kamar mandi. Supaya mau tidak mau aku harus berjalan untuk mematikan si berisik itu.
Alarm berdering. Kriiing.. kriing.. kriiiingg! Nyaring sekali bunyinya. Benar saja jam menunjukan pukul 04.15 WIB. Suhu kamarku dingin sekali saat itu karena aku tinggal di kaki gunung Manglayang.
Aku keluar dari selimut dan berharap supaya nampak seperti ulat yang keluar dari kepompong. Berubah menjadi sosok yang lebih cantik dari sebelumnya. Kupu-kupu yang penuh warna dan siap terbang mencari nektar yang manis. Ups, aku melamun.
Aku pun meminum segelas air putih di sebelah si berisik itu. Lega sekali tenggorokanku setelah itu. Seluruh nyawaku telah berkumpul setelah meminum air yang sengaja aku simpan sebelum tidur itu. Melompatlah aku ke kamar mandi, aku harus menunaikan kewajibanku. Segarnya percikan air wudu yang membasuh wajahku. Dua rakaat pun aku tunaikan seraya berharap ada keajaiban yang akan Allah berikan kepadaku hari ini.
Ibu adalah orang pertama yang terucap di setiap doaku. Berharap supaya Allah memberikan kasih sayang-Nya sebagaimana ibu memberikan kasih sayangnya kepadaku dari kecil. Ayah telah meninggalkan kami sejak aku masih balita. Kadang aku bersedih karena Allah memanggilnya terlalu cepat sehingga sampai saat ini aku tidak pernah tahu sosoknya. Namun, ibu selalu mengatakan bahwa wajahku mirip ayah. Ayah adalah lelaki hebat, bertanggungnjawab, dan menyayangi keluarganya.
—
“Ayahmu sangat tampan namun yang membuat ibu jatuh cinta karena kemuliaan hatinya. Ibu sangat menyayanginya. Wajahmu mengingatkan ibu kepadanya.” Kalimat itu terus menerus ibu ulangi ketika aku selalu bertanya bagaimana sosok ayah. Ibu adalah sosok wanita yang tegar, dia seakan telah bersumpah untuk tidak akan bersedih di hadapan anaknya.
Umurku sebentar lagi enam tahun. Kala itu ibu bekerja sebagai pedagang pakaian keliling. Berjalan menyusuri setiap gang di kampung-kampung yang berbeda. Aku sering memaksa untuk ikut ibu berdagang walau sering ibu tolak dengan alasan aku harus sekolah. Sekolah sama saja dengan mencekik ibu pelan-pelan. Aku bersikukuh mempertahankan logikaku saat itu. Namun yang membuatku takjub adalah tatapan mata ibu ketika berusaha meyakinkanku. Ibu pun bekerja seharian demi memastikan cukup biaya untuk sekolahku.
Tahun berikutnya aku didaftarkan ibu masuk Sekolah Dasar. Aku adalah seorang anak yang supel dan ceria. Sebetulnya agak sedikit tomboy sehingga teman laki-lakiku menghindar dariku. Namun, aku tetaplah gadis mungil yang imut. Ibu selalu memakaikan kerudung yang lucu untukku. Sehingga orangtua teman-temanku selalu gemas ketika berjumpa denganku.
Berbeda dengan teman-temanku yang selalu diantar dan diawasi seharian di sekolah, aku sebaliknya. Membuatku sedikit iri. Karena teman sekelasku seperti melihat makhluk aneh walau sesungguhnya itu timbul dari perasaanku saja. Selain anak yang ceria, aku juga termasuk anak yang rewel. Aku selalu mengamuk kepada ibu untuk ikut berdagang bersamanya. Namun, ibu tidak pernah satu kali pun memarahi karena sikapku. Dia hanya tersenyum kepadaku dan mengatakan,
“Besok ibu temenin kamu di sekolah ya.”
Setidaknya ucapan ibu menyumpal mulutku yang rewel.
Selama dua minggu aku berangkat ke sekolah bersama ibu. Aku menyeringai dan menatap mata teman-temanku dengan mimik penuh kemenangan. Ibu selalu mengintip gadis kecilnya dari jendela. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Aku senang sekali. Aku menjadi sangat aktif di kelas. Ibu guru pun terkesima olehku. Ibu hanya tersenyum saja menatapku. Aku tersenyum dan hati kecilku berkata,
“Ibu, telima kasih!”
Aku kini menjadi lebih mandiri. Semangat belajarku berkobar. Ibu selalu mengajariku dengan tulus. Aku sangat senang jika ibu menantangku untuk menghapal Alquran. Karena ibu selalu memberikan hadiah, jika aku berhasil menuntaskan hapalanku.
“Ibu, telima kasih!”
Sekarang, aku berangkat sekolah dengan menggendong tas yang lebih besar dari tubuhku sendirian. Ibu tidak membujukku sama sekali. Ibu pun tersenyum tulus ketika aku mantap berkata,
‘Bu, besok Aisyah belangkat sekolah sendili yah. Deket ini kok bu.”
Alhasil, ibu dan aku berangkat bersama setiap pagi namun kemudian kami berpisah. Ibu berdagang dan aku ke SD Sinar Harapan. Tidak sedikit pun mengurangi semangat belajarku. Aku menjadi juara kelas. Ibu meneteskan air mata dan menciumi pipi tembemku.
“Telima kasih Ibu!”
—
Aku beranjak membaca bahan untuk kuliah hari ini. Kebetulan, hari ini kuliah pertamaku pukul 10.20 WIB. Jadi cukup membuatku agak santai pagi ini. Aku menemukan kalimat yang di dalamnya tersisip kata pengorbanan. Selintas aku ingat ibu. Beasiswa yang kuterima ini berkat motivasi darinya. Bekerja sekuat tenaga menjadikan siang sebagai malam dan sebaliknya.
—
Ketika aku masuk SMA, ibu pindah profesi menjadi koki. Ya, ibu pandai sekali memasak. Walau dulu jarang sekali untuk makan daging. Namun, sayur capcay ibu adalah yang terbaik menurut versiku.
Pengorbanan untuk aku, ibu melakukan ini semua demi kebahagiaan putrinya. Putrinya yang berevolusi menjadi wanita bertaqwa setelah bergabung dengan Ikatan Remaja Masjid sejak SMP. Inikah yang dinamakan pengorbanan yang sejati?
Pengorbanan. Sering aku dengar dari teman-temanku tentang kata itu. Tapi mereka selalu menyisipkan sebelum kata pacarku. Mereka hanya membahas tentang seberapa besar pengorbanan pacarnya kepada mereka atau sebaliknya. Pengorbanan macam apa itu? Kata hatiku.
Ayah, anakmu kini telah tumbuh dewasa karena ibu. Aku mulai mengetahui apa alasan ayah mencintai ibu karena aku pun sangat mencintainya. Ayah, betapa beruntungnya aku karena masih memiliki ibu. Ibu yang seperti dia. Walau tak sedikit teman-temanku yang sering membicarakan keburukan ibunya. Mereka bersemangat sekali ketika membicarakan ibunya yang sering cerewet menyuruh dia makan, cerewet agar tidak pulang malam, dan cerewet khas ibu lainnya. Namun aku percaya satu hal.. ayah, ibu seperti itu karena ibu menyayangi anaknya bukan?
—
Ketika mengingat ibu, aku terharu sekaligus kagum. Dari keringatnyalah aku bisa duduk di bangku kuliah ini. Ibu adalah motivasi terbesarku. Ibu adalah pahlawan yang selalu ada di hatiku. Apa jadinya aku jika tidak ada ibu? Sungguh pertanyaan yang tidak mau aku jawab. Hati kecilku belum siap untuk menerima kemungkinan tersebut.

CERPEN Dua Wajah Ibu



Perempuan tua itu mendongakkan wajah begitu mendengar desingan tajam di atas ubun-ubunnya. Di langit petang yang temaram, ia melihat lampu kuning, hijau, dan merah mengerjap-ngerjap pada ujung-ujung sayap pesawat terbang.
Deru burung besi itu kian nyaring begitu melewati tempatnya berjongkok. Ia menghentikan gerakan tangannya. Menggiring burung itu lenyap dari mata lamurnya. Lalu, tangannya kembali menggumuli cucian pakaian yang tak kunjung habis itu. Beberapa detik sekali, tangan keriputnya berhenti, lalu ia menampari pipi dan kaki. Nyamuk di belantara beton ternyata lebih ganas ketimbang nyamuk-nyamuk rimba yang saban pagi menyetubuhi kulitnya saat menyadap karet nun jauh di pedalaman Sumatera-Selatan sana: Tanah Abang.
Ia menarik napas, melegakan dada ringkihnya yang terasa kian menyempit. Kicauan televisi tetangga menenggelamkan helaan napasnya. Suara musik, iklan, dan segala hal. Perempuan itu kembali menghela napas. Lalu, bangkit dari jongkoknya, menekan tuas sumur pompa. Irama air mengalir dalam ritme yang kacau. Kadang besar, kadang kecil, seiring tenaganya yang timbul-tenggelam. Air keruh memenuhi bak plastik, menindih-nindih pakaian yang bergelut busa deterjen. Bau karet tercium menyengat begitu air itu jatuh seperti terjun.
Ia adalah Mak Inang. Belum genap satu purnama perempuan tua itu terdampar di rimba Jakarta, di antara semak-belukar rumah kontrakan yang berdesak-desakan macam jamur kuping yang mengembang bila musim hujan di kebun karetnya. Hidungnya pun belum akrab dengan bau bacin selokan berair hitam kental yang mengalir di belakang kontrakan berdinding triplek anak lanangnya. Bahkan, Mak Inang masih sering terkaget-kaget bila tikus-tikus got Jakarta yang bertubuh hitam-besar lagi gemuk melebihi kucing betinanya di kampung, tiba-tiba berlarian di depan matanya.
Sesungguhnya, ia pun masih tak percaya bila terjaga dari lelapnya yang tak pernah pulas, kalau akhirnya ia menjejakkan kaki di ibu kota Jakarta yang kerap diceritakan orang-orang di kampungnya. Suatu tempat yang sangat asing, aneh, dan begitu menakjubkan dalam cerita Mak Rifah, Mak Sangkut, dan beberapa perempuan kampung karibnya, lepas perempuan-perempuan itu mengunjungi anak bujang atau pun gadis mereka. Sesuatu yang terdengar seperti surganya dunia. Serba mewah, serba manis, serba tak bisa ia bayangkan.
”Kesinilah, Mak. Tengoklah anak lanangku, cucu bujang Emak. Parasnya rupawan mirip almarhum Ebak,” itulah suara Jamal kepadanya beberapa pekan silam. Suara anak lanangnya yang kemerosok seperti radio tua, ia pun melipat kening saat mengetahui suara itu berasal dari benda aneh di genggamannya.
”Dengan siapa Mak ke situ?” lontarnya. Ada keinginan yang menyeruak seketika di dada Mak Inang. Keinginan yang sejatinya sudah lama terpendam. Telah lama ia ingin melihat Jakarta. Ibu kota yang telah dikunjungi karib-karibnya. Tapi, ia selalu tak punya alasan ke sana, walau anak lanangnya, yang cuma satu-satunya ia miliki selain dua gadisnya yang telah diboyong suami mereka di kampung sebelah, merantau ke kota itu. Belum pernah Jamal menawarinya ke sana. Tak heran, ketika petang itu Jamal memintanya datang, ia lekas-lekas menanggapinya.
”Tanyai Kurti, Mak. Kapan ia balik? Masalah ongkos, Mak pakai duit Emak dululah. Nanti, bila aku sudah gajian, Emak kuongkosi pulang dan kukembalikan ongkos Emak ke sini,” itulah janji anak lanangnya sebelum mengakhiri pembicaraan. Suara kemerosok seperti radio tua itu terputus.
Mak Inang kembali menghela napas saat ingat percakapan lewat hape dengan anak lanangnya itu. Beberapa pekan sebelum ia merasa telah tersesat di rimba Jakarta, di semak-belukar kontrakan yang bergot bau menyengat. Ia melepas tuas pompa, air berhenti mengalir. Tangannya menjangkau cucian, membilasnya.
***
Kota yang panas. Itulah kesan pertama Mak Inang saat mata lamurnya menggerayangi terminal bus Kampung Rambutan. Sedetik kemudian, ia menambahkan kesan pertamanya itu: Kota bacin dan berbau pesing. Hidung tuanya demikian menderita ketika membaui bau tak sedap itu. Hatinya bertanya-tanya heran melihat Kurti demikian menikmati bau itu. Hidung pesek gadis berkulit sawo matang itu tetap saja mengembang-embang, seolah-olah bau yang membuat perut Mak Inang mual itu tercium melati.
Belum jua hilang rasa penat dan pusing di kepala Mak Inang, apalagi rasa pedas di bokongnya, karena duduk sehari-semalam di bus reot yang berjalan macam keong, beberapa orang telah berebut mengerubungi dirinya dan Kurti, macam lalat, berdengung-dengung. Mak Inang memijit keningnya. Cupingnya pun ikut pening dengan orang-orang yang berbicara tak jelas pada Kurti, gadis itu diam tak menggubris, hanya menyeret Mak Inang pergi.
Mak Inang kembali memeras beberapa popok yang ia cuci, sekaligus. Telapak kaki kanannya yang kapalan cepat-cepat menampari betis kirinya begitu beberapa nyamuk membabi-buta di kulit keringnya. Ia menghempaskan popok yang sudah diperasnya itu ke dalam ember plastik. Jemari tangannya menggaruk-garuk betis kirinya. Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret di kulit keringnya. Ia menggeram. Hatinya menyumpah-serapah kepada binatang laknat tak tahu diri itu.
Dua-tiga hari pertama, Mak Inang cukup senang berada di rumah berdinding batu setengah triplek Jamal. Rasa senangnya itu bersumber dari cucu bujangnya yang masih merah itu. Walau, sesungguhnya Mak Inang terkaget-kaget saat Kurti mengantarnya ke rumah Jamal. Semua di luar otak tuanya. Dalam benaknya yang mulai ringkih, Jamal berada di rumah-rumah beton yang diceritakan Mak Sangkut, bukan di rumah kecil sepengap ini. Keterkejutannya kian bertambah saat perutnya melilit di subuh buta. Hanya ada satu kakus untuk berderet-deret kontrakan itu. Itu pun baunya sangat memualkan. Hampir saja Mak Inang tak mampu menahannya.
”Mak hendak pulang, Mal. Sudah seminggu, nanti pisang Emak ditebang orang, karet pun sayang tak disadap,” lontar Mak Inang di pagi yang tak bisa ia tahan lagi. Ia benar-benar tak ingin berlama-lama di ibu kota yang sungguh aneh baginya. Sesungguhnya, Mak Inang pun aneh dengan orang-orang yang saban hari, saban minggu, saban bulan, dan saban tahun datang mengadu nasib ke kota ini. Apa yang mereka cari di rimba bernyamuk ganas, berbau bacin, bertikus besar melebihi kucing ini? Mak Inang tak bisa menghabiskan pikiran itu pada sebuah jawaban.
”Akhir bulanlah, Mak. Aku gajian saban akhir bulan, sekarang tengah bulan. Tak bisa. Pabrik juga tengah banyak order, belum bisa aku kawani Mak jalan-jalan mutar Jakarta,” ujar Jamal sembari menyeruput kopi hitam dan mengunyah rebusan singkong. Singkong yang Mak Inang bawa seminggu silam. Mak Inang tak bersuara. Hatinya terasa terperas dengan rasa yang kian membuatnya tak nyaman.
”Kurti libur hari ini, Mak. Katanya tengah tak ada lembur di pabriknya. Nanti kuminta ia mengawani Mak jalan-jalan. Ke mal, ke rumah anak Wak Sangkut dan Wak Rifah,” terdengar suara Mai, menantunya, dari arah dapur yang pengap.
Mak Inang mengukir senyum semringah mendengar itu. Rasa tak nyaman yang menggiring keinginannya untuk pulang mendadak menguap. Kembali cerita Mak Rifah dan Mak Sangkut tentang Jakarta mengelindap. Gegas sekali perempuan tua itu menyalin baju dan menggedor-gedor pintu kontrakan Kurti. Gadis itu membuka pintu dengan mata merah-sembab, muka awut-awutan dengan rambut yang kusut-masai. Mak Inang tak peduli mata mengantuk Kurti, ia menggiring gadis itu untuk lekas mandi dan menemaninya keliling Jakarta, melihat rupa wajah ibu kota yang selama ini hanya ada dalam cerita karib sebaya dan pikirannya saja.
Serupa kali pertama Kurti mengantarnya ke muka kontrakan anak lanangnya, seperti itulah keterkejutan Mak Inang saat menjejakkan kaki di kontrakan anak Mak Sangkut dan Mak Rifah. Tak jauh berupa, tak ada berbeda. Kontrakan anak karib-karibnya itu pun sama-sama pengap dan panas. Hal yang membuat Mak Inang meremangkan kuduknya, gundukan sampah berlalat hijau dengan dengungan keras, bau menyengat, tertumpuk hanya beberapa puluh meter saja. Kepala Mak Inang berdenyut-denyut melihat itu. Lebih-lebih saat menghempaskan pantatnya di lantai semen anaknya Mak Sangkut. Allahurobbi, alangkah banyak cucu Mak Sangkut, menyempal macam rayap. Berteriak, menangis, merengek minta jajan, dan tingkah pola yang membuat Mak Inang hendak mati rasa. Hanya setengah jam Mak Inang dan Kurti di rumah itu, berselang-seling cucunya Mak Sangkut itu menangis.
Kebingungan Mak Inang pada orang-orang yang saban waktu datang ke Jakarta untuk mengadu nasib kian besar saja. Apa hal yang membuat mereka tergoda ke kota bacin lagi pesing ini? Segala apa yang ia lihat satu-dua pekan ini, tak ada yang membuat hatinya mengembang penuh bunga. Lebih elok tinggal di kampung, menggarap huma, membajak sawah, mengalirkan getah-getah karet dari pokoknya, batin Mak Inang.
***
Tangan Mak Inang kembali menekan-nekan tuas pompa, air keruh dengan bau karet yang menyengat kembali berjatuhan ke dalam bak plastik. Kadang besar, kadang kecil, seiring dengan tenaganya yang timbul tenggelam. Lagi, Mak Inang membilas cucian pakaian cucu, menantu, anak lanang, dan dirinya sendiri. Mendadak Mak Inang telah merasa dirinya serupa babu. Di petang temaram bernyamuk ganas, ia masih berkubang dengan cucian. Di kampung, waktu-waktu serupa ini, ia telah bertelekung dan gegas membawa kakinya ke mushola, mendahului muadzin yang sebentar lagi mengumandangkan adzan.
Lampu benderang. Serentak. Seperti telah berkongsi sebelumnya. Berkelip-kelip macam kunang-kunang di malam kelam. Lagi, terdengar suara desingan tajam di atas ubun-ubun Mak Inang. Ia pun kembali mendongakkan wajah, mata lamurnya melihat lampu merah, kuning, hijau berkelip-kelip di langit temaram. Nyamuk-nyamuk pun kian ganas dan membabi-buta menyerang kulit keringnya.
Wajah Mak Inang kian mengelap, hatinya menghitung-hitung angka di almanak dalam benak. Berapa hari lagi menuju akhir bulan? Rasa-rasanya, telah seabad Mak Inang melihat muka Jakarta yang di luar dugaannya. Benak Mak Inang pun hendak bertanya: Mengapa kau tak pulang saja, Mal? Ajak anak-binimu di kampung saja. Bersama Emak, menyadap karet, dan merawat limas. Tapi, mulut Mak Inang terkunci rapat.
Malam di langit ibu kota merangkak bersama muka Mak Inang yang terkesiap karena seekor tikus got hitam besar mendadak berlari di depannya. Keterkejutan Mak Inang disudahi suara adzan dari televisi. Perempuan itu kembali menekan tuas sumur pompa, air mengalir, jatuh ke dalam ember plastik. Ia membasuh muka tuanya dengan wudhu. Bersamaan dengan itu, mendadak gerimis turun, seolah ibu kota pun hendak mencuci muka kotornya dengan wudhu bersama Mak Inang. Muka tua yang telah keriput, mengkerut, dan carut-marut.